Analogi Perjalan ke arah Tujuan

         Secercah harapan membelalak di depan mata. Andai kau tahu, betapa harapan itu kian memabukkanku. Aku terus berjalan dengan arah yang jelas di sini. Aku akan beristirahat sebentar dikala saraf otot kakiku mengeras, akan berhenti untuk beberapa menit mencari beberapa asupan energi untuk melanjutkan perjalanan dengan kecepatan maksimum. Atau kau bisa menganggap aku tak berjalan, iya kau bisa anggap aku berlari menjemput sebuah kepastian.
         Seperti kalian yang sedang membaca ini, kalian pasti tak mampu berlari hanya dengan bertelanjang kaki, begitupun dengan diriku. Aku berlari dengan sepatu atau terkadang dengan sandal seadanya. Aku tak mau kelak jika kelak aku tiba tepat di penantian, kakiku terluka, dan berdarah sia-sia, ingin tetap ada di dalam kesehatan yang telah di anugerahkan Tuhan kepadaku. Aku tak mau mengambil asal kata yang mengatakan bahwa SAKIT adalah PENGHAPUS DOSA. Aku percaya dengan itu, namun menurutku, betapa bodohnya aku, jika aku menyengajakan diri untuk tidak bersandal ataupun bersepatu hanya demi sebuah penghapusan dosa. Bukankah lebih mulia di sisiNya apabila kita menghapus dosa dengan cara yang fair, yakni dengan ilmu kita, dengan usaha kita.
          Selangkah demi selangkah aku lalui 100 meter itu. Meter demi meter aku lalui pula kilometer itu, Kilometer demi kilometer aku susuri bermil-mil tujuan yang begitu jelas. Kejelasan itu membuatku tak merasa rugi dan ragu. Berjuta-juta mil aku berlari, kuiringi dengan berjalan dan istirahat silih berganti membuatku sampai ke penjuru dunia, sampai pada tujuan terakhirku. Kau mengerti? betapa indah apa yang aku tuju, betapa leganya teka-teki dalam benakku mengenai tujuanku, betapa hebatnya melebihi apa yang selama ini aku angankan. Kau tahu? di luar apa yang aku usahakan, ada jalanan aspal yang diberikan Tuhan, ada jalanan berbatu yang diberikan Tuhan, ada pasir lembut yang diberikan Tuhan, ada rerumputan yang diberikan Tuhan, dan ada arah yang diberikan Tuhan.
            Aku tak kuasa jika aku tak bersama yang Maha Kuasa, aku tak kan mengerti jika tak bersama yang Maha Mengerti, aku tak kan berakhir jika tak bersamayang Maha Mengakhiri.

0 komentar:

Post a Comment