Harus
memilih jalan ataukah menunggu cahaya menerangi jalan yang masih abu-abu?
Memilih jalan dan menunggu jalanan lain menjadi terang adalah dua tindakan yang cukup bijak untuk dilakukan
secara bersama. Keyakinan bahwa tak ada satupun yang diciptakan Tuhan dengan
sia-sia membuat segalanya terasa menguntungkan. Hikmah bisa didapat dari
pilihan itu, dan jika pilihan itu bukan jalan bagi kita, maka hikmah itu dapat
berguna untuk jalan lain yang telah nampak terang. Memilih adalah sebuah
perbuatan yang berlandaskan akan keyakinan. Benar, jika keyakinan/iman adalah
nikmat yang paling utama.
Masa lalu
acap kali datang membawa sensasi yang bermacam-macam, kerap kali aku merasa
lebih takut berhadapan dengan masa lalu yang datang serampangan tanpa permisi ketimbang masa depan yang bisa kita mulai
dari masa kini. Ketakutan akan kenangan masa lalu bukanlah tolok ukur kualitas
pilihan yang diambil, misalnya saat kita memilih sesuatu karena kita takut hal
buruk akan terjadi pada diri kita, bukan berarti pilihan yang kita pilih itu
baik untuk kita, sebab kita harus memilih berdasarkan keyakinan, dan kalian tau
kan keyakinan selalu identik dengan “keberanian”, maka dari itu membuat suatu
keputusan haruslah dipikir benar-benar, tapi bukan berarti dipikir lama-lama,
karena apapun yang kita perbuat selalu mengandung resiko, dari situ hikmah
berasal. Rasa takut hanyalah portal yang
harus dilalui, bukan dasar kita untuk memilih. Dan ketika semuanya terasa
indah, ada satu hal yang terbesit dalam nurani, menyentuh bagian jiwa malaikat
kita, menyentuhnya dengan begitu hangat, “Tuhan, biarkan kebahagiaan ini abadi,
karena berkat dan rahmat yang Engkau limpahkan di dalamnya”.
Suatu hari,
aku pernah update status facebook
dalam akunku. Kurang lebih aku bilang, “Ketakutan melakukan sesuatu akan pudar
seketika saat kita melakukannya.”, That’s real!, itu seperti saat kita bangun
tidur, yang diliputi perasaan malas, dan rasa takut untuk bertemu air alias
mandi, tapi segala pikiran buruk tentang air itu hilang saat air mengguyur
badan, sekali, du kali, tiga kali, hingga akhirnya membuat kita ingin dan
selalu ingin untuk terus mandi, dan perasaan lebih baik pun muncul sesaat
setelah kita memakai pakaian kita yang bersih, perasaan nyaman dan segar
menjadi pengganti, bahkan nurani berkata,”bener ya, dari pada gue tidur dan
males-malesan nutup selimut, mandi adalah jauh lebih baik!”. Namun sangat
sering kita ingat perasaan itu tetapi kita kembali malas di hari berikutnya.
Butuh komitmen yang tinggi untuk menjadi terbiasa.

0 komentar:
Post a Comment