Fans dan sang Idola


Bagi mereka yang mempunyai fans, mereka adalah orang yang beruntung. Di saat mereka jatuh,  fans setia akan tetap mendukungnya, terlebih lagi mereka akan mendoakannya. Para fans mungkin tidak pernah dikenal oleh sang idola, tapi ada doa tulus yang selalu menyertai langkah sang idola untuk tetap terus ‘diakui’. Tak peduli idola yang dipuja itu sudah terkenal atau belum. Tentunya para fans berharap bagi idola mereka yang terkenal agar tetap menjadi ‘inspirasi’ bagi mereka, dan bagi mereka yang mungkin masih muncul sebagai figuran atau new comer  tentunya para fans berharap agar sang calon idola yang telah menjadi idola di hati mereka lebih mampu untuk menginspirasi manusia dalam jumlah yang lebih banyak lagi, sehingga tak hanya mereka yang terinspirasi.

Aku sendiri bingung mengapa ada begitu banyak sosok yang  diidolakan, padahal kebanyakan dari manusia telah memiliki sosok yang juga menginspirasi ketimbang para figuran ataupun new comer,ataupun sosok-sosok yang lain, singkatnya mereka memilih satu sosok atau beberapa sosok daripada sosok-sosok lain yang juga menginpirasi. Apakah ini berkaitan dengan apa yang dinamakan subjektifitas? Jawabnnya, mungkin.

Manusia diciptakan beragam. Beragam, berarti tak sama. Beragam, berarti ada insting untuk mencari kesamaan (baca: persatuan). Hal tersebut dapat menjadi salah satu dasar adanya kumpulan fans untuk setiap sosok. Manusia diberi Tuhan masalah, dihikmahi pengalaman, dan diberkati perasaan. Dan kembali lagi, bahwa ketiga hal tersebut beragam. Hingga segala bentuk sistem alam dan buatan saling berkesinambungan antar sesamanya maupun antarkeduanya, seperti insting dan  sistem komunikasi misalnya, dapat melahirkan suatu ‘kasta’ modern pada salah satu sisi kehidupan layaknya,Waisya, Sudra, Ksatria,dan Brahmana , yakni fans dan sosok yang secara subjektif mampu menginspirasi para fans bejuluk idola. Sehingga diperlukan sosok-sosok beragam yang bisa mereka anggap sebagai sosok yang terbaik dari yang terbaik.  Hal yang perlu ditekankan, ini adalah kasta modern, yang seharusnya disikapi layaknya orang-orang yang berpemikiran modern, yakni berakal dan beradab, sehingga kasta modern seharusnya tak ada yang berbuat dzalim pada setiap kasta lain yang terbentuk.

Maka dari itu, kebanyakan dari idola, menjadikan para fans sebagai sahabat mereka. Semoga sang idola tetap selalu ramah dan bershabat, dan kalau bisa bersahabat dalam arti yang sebenarnya. Sebaliknya, para fans  tidak terlalu memaksakan sang idola, karena idola juga manusa, bukankah idolamu adalah sahabatmu, atau mungkin lebih tepatnya adalah sosok yang benar-benar kamu dambakan untuk menjadi benar-benar sahabatmu?

0 komentar:

Post a Comment