Ada
saatnya seorang pria jomblo dan tanpa teman membutuhkan kasih sayang. Ada
saatnya seorang pria jomblo dan tanpa teman tak mampu bersikap garang di mata orang lain.
Saat itulah, saat di mana hanya Tuhan tempatnya bersandar. Tuhan, tak pernah
mencelanya. Tuhan mampu menjadi tempatnya mengadu, menangis, dan meminta
solusi. Pria jomblo dan tanpa teman itu adalah aku. Kamu? Entahlah. Jika,
perasaan seperti ini tak hanya pria sepertiku saja yang merasakan, maka para
pria yang lain pun merasakan. Namun jika hanya aku yang merasakan, ada satu
pertanyaan dalam benakku, “Lalu,
bagaimana normalnya pria jomblo tanpa teman saat mereka menghadapi perasaan seperti itu?”.
Yang
aku tahu, seorang pria itu cuek. Tidak mellow.
Bahkan kebanyakan dari mereka ceria, atau minimal berekspresi datar lah (baca: cool). Itu yang aku tahu, itu yang aku
lihat. Sedih? Nangis? Sampai sekarang pria yang pernah menangis dan sedih dan
tak malu menunjukkannya di hadapanku hanya ayah, om, dan teman-teman kelas 3 sd
ku yang mungkin saat ini mereka telah bersikap selayaknya pria bertopeng.
Tunggu dulu, pria bertopeng versiku bukan seseorang yang jahat. Tetapi
pria-pria ini, termasuk aku adalah pria yang mencoba bersikap profesional.
Profesional akan nilai-nilai yang telah hidup sejak dulu. Nilai-nilai? Semoga!
Semoga, sikap gagah, tangguh, dan menjadi pelindung hanyalah sebuah nilai luhur
yang ditanamkan para gentlemen terdahulu
kepada para pria saat ini, bukan “ancaman”, bukan “paksaan”, dan bukan “doktrin
nista” yang nantinya hanya membuat kaum-kaum yang belum menghayati nilai luhur
tersebut menjadi tersisihkan bahkan tersakiti.
Menurutku,
nilai luhur adalah topeng baik yang digunakan manusia, dalam hal ini pria, untuk
menunjukkan keluhuran. Sehingga, menjadi sah saja, ketika si empunya topeng
berkeinginan untuk melepasnya, dan menjadi dirinya sendiri. Sekali lagi,
manusia yang baik tak berlebihan memakai topengnya, karena saat manusia baik telah
melepaskan topeng itu ada hati yang baik yang jauh lebih berharga dari sekedar
topeng. Jadi, sesuatu yang normal, jika seorang pria jomblo dan tanpa teman
hanya butuh Tuhan saat ia rindu kasih sayang cinta (ibu, ayah, saudara, teman,
sahabat, pacar, ataupun kekasih).
Yang
terakhir, Aku bersyukur terlahir normal. Aku bersyukur terlahir sebagai makhluk
berakal dan berTuhan. Aku bersyukur detik ini masih memiliki Tuhan. Satu
pintaku, kelak, jika aku telah memiliki objek-objek yang belum aku miliki saat
ini, dan nantinya akan begitu aku cintai, aku tak lupa membagi kisah cintaku
kepada Tuhan. Kisah cinta yang penuh senyuman maupun derasnya air mata.

0 komentar:
Post a Comment