Manusia ini

Hanyalah manusia, betul-betul sekedar manusia. Begitu ingin menjadi
"sesuatu". Ditemani rasa takut, bingung, ragu, dan terkadang optimis,
tekad, bahkan nekat silih berganti mengisi kehidupan. Dan yang silih
berganti itu tak sekadar masuk dan keluar, pastinya ada yang membekas.
Bekas. Seperti betul-betul membekas. Akan betul-betul parah jika tak
cerdas-cerdas menyikapinya. Traumatik yang begitu buruk akan menjadi
endapan memori yang tentunya akan mempengaruhi kualitas "kehidupan".
Kembali kepada hasrat untuk menjadi sesuatu, tentunya sesuatu yang
begitu berguna. Entah tidak sadar atau belum menjadi sesuatu, karena
selalu saja ada harapan untuk mencapai itu. Namun, memori seolah
menjadi pembela atau pahlawan kesiangan agar si empunya tak terlanjur
menggoreskan bekas tak terpuji, sebut saja traumatik tadi. Memori
menyadarkan "kamu itu manusia kan? Pastinya kamu pernah memanfaatkan
hidupmu untuk seseorang atau sesuatu".
Kembali terhenyak, dan mencoba merenunginya kembali. Semoga segera
muncul "cahaya Ilahi" itu. Aamiin. :)

0 komentar:

Post a Comment