Sebuah Tempat Berjuluk Kamar

Setuju ngga sih, kalau kamar itu adalah sahabat yang menempati posisi
tersendiri di hati kita?
Kita bisa ancur-ancuran berperilaku apa aja di kamar. Bisa
jerit-jerit, sedih, mengubur semua masalah di kamar, apapun.
Baik buruknya kita seolah-olah cermin lemari di kamar menjadi
saksinya. Segala lamunan mampu terbaca oleh atap kamar. Aroma busana
yang tergantung seolah menjadi media dari lamunan itu sendiri, dari
perenungan itu. Kasur? Guling? Bantal? Selimut? Betul, mereka pun
turut andil menjadi kawan bisu, sahabat tak bernyawa dari diri yang
diliputi kegalauan, kemarahan, kegembiraan, penyesalan, apapun itu.
Semua. Semua yang ada di dalam kamar menjadi organ yang seolah hidup
bagi guah.
Kamar tak jarang mampu memberikan energi positifnya ke gua, masuk
sedih, keluarnya indah. Masuk galau, keluarnya masih galau sih hehe,
tapi berkurang.
Barang-barang tak bernyawa di dalam kamar, membuat kita nyaman
berkeluh kesah sebebas bebasnya, karena mereka tak punya mulut untuk
membongkar aib kita.
Sejatinya, gua ngga pernah cerita sama itu barang-barang, adalah Yang
Maha dari segala Maha yang sebenernya tempat gua berbagi kisah. Dan
rasa nyaman itu Dia berikan lewat barang-barang di kamar. Jadi, salah
kalau orang bilang gua gila, mereka hanya ga tahu.
Beginilah cara gua memandang sebuah tempat berjuluk kamar, tepatnya
kamar pribadi.
Semoga manfaat ya.

0 komentar:

Post a Comment