Beratnya Proses itu

Proses di dalamnya jelas harus ada sebuah pembuktian, ia
dinamakan sebuah proses karena ia akan menjadi sebuah anak tangga baru
yang perlahan membantu kita menuju tingkat terisitmewa menurut pribadi
masing-masing.
Berat? Emang iya. Aku punya kemauan tapi membayangkan beratnya
itu seperti tak sanggup menjalankannya. Butuh sahabat, yang selalu
"ada", yang siap menepuk pundakku di saat aku punya kemauan
menjalankan proses, yang selalu tersenyum saat aku butuh ditenangkan.
Jiwa sosialku muncul, aku menyadari bahwa aku tak bisa hidup
sendiri, sebenarnya kesadaran ini muncul sudah lama.
Di manakah kamu wahai sahabatku, sahabat dengan akhlak nya yang
luhur. Baiklah, aku tak berdiam diri, aku rela, aku ikhlas saat ada
hal yang membuatku tersakiti akibat dari kegetolanku menemukanmu,
benar, sekali lagi itulah proses, proses yang sama sekali bukan hal
yang ringan, BAGIKU. Tapi, aku akan berusaha mensugestikannya menjadi
ringan.
Aku harus berusaha sendiri kini, tapi aku punya Allah. Allah
memang sahabat yang haqiqi, sejatinya. Hanya aku saja yang begitu
sulit menjadikannya sahabat. Maaf, alasannya terlalu picik, jadi aku
tidak mau menyebutkan aibku.
Ya Allah yang Maha Suci, Berikanlah hamba sahabat yang baik dan
cocok, untuk meringankan beban hamba. Tentu semua karenaMu. Dan terima
kasih, syukur hamba kepadaMu.

Meninggalnya Si Ustadz Gaul, UJE

Sedih, berasa kehilangan. Kenapa ya? Apa cuma perasaan sementara?

Biasanya kalo ada public figure yang meninggal, gua belum pernah
seterenyuh ini. Lihat anak-anak Uje yang masih kecil-kecil dan masih
butuh teladan dari sang ayah berasa semakin menjadi-jadi perasaan
sedih ini. Apalagi pas istri almarhum Uje sempet kayak orang
keliyengan, dan yang bikin gua sampe netesin air mata (gua ga pernah
nangis klo liat public figure meninggal, paling cuma ikut berbela
sungkawa) adalah pas Umi Pipik nunjukin sebuah gambar awan hasil
jepretan yang disimpan di ponselnya. Awan itu menyerupai orang yang
duduk berdoa. Menurut Umi, gambar itu diambil saat pemakaman Uje.
Wallaahu a'lam.

Suami saya orang baik, seperti itu ujar Umi.

Awal guah liat Uje itu kapan gua juga lupa. Yang jelas, yang gua
inget, pertama kali gua liat beliau tausiyah (sekali lagi di tv), saya
bisa menilai Ustadz ini enerjik, fasih bacaan dalilnya, lumayan
ganteng, ustadz ini punya gaya tersendiri buat menarik hati orang
lain. Dan saya suka. Dan orang lain pun seolah mengiyakan pendapat
saya. Misalnya, waktu itu ayah saya sih. Beliau memberikan saya sebuah
busana muslim, katanya model Uje. Kemudian media pun menjulukinya
ustadz gaul, karena enerjik dan pemilihan katanya dalam berdakwah,
dari sini saya semakin yakin bahwa beliau memang layak untuk
diteladani, tentunya tanpa melupakan teladan teragung bagi umat Islam
yakni, Nabi Muhammad saw.

UstAd Jeffry Al Bukhori, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah
SWT, dan semoga kami bisa meniru teladan baikmu. Aamiin.

UJE [MENGINSPIRASI]

Uji Coba Formula Ubah Mindset

Pagi-pagi mau bagi semangat dan cerita! Semoga... Nyampe ya!

Hei kalian, aku baru nguji coba satu formula nih. Formula ini sedang
aku uji coba soalnya belum terbukti manjur atau kagak. Semoga aja
manjur!! Wish me luck, kalo manjur, kalian bisa pake juga kok, gratis
malah. Gak butuh bahan-bahan yang ribet, cukup akal dan hati.

Formula ini aku coba untuk merubah mindset, tentunya dari mindset
buruk ke mindset baik. Hehe.

Tergagas dari seorang pembicara di sebuah acara televisi beberapa
tahun lalu (hehe, subhanallaah ya masih inget). Beliau bilang agar
mindset kita berubah kita harus mengatakan mindset baik
sebanyak-banyaknya setiap saat selagi inget, ya diusahain selalu
inget. Misal, kita pengen nanemin mindset BERANI, ya tinggal bicara di
depan kaca atau nggak di depan kaca juga gak papa sih, BERANI, BERANI,
BERANI!! Tentunya dengan keyakinan ya!

Kalo menurutku sih, itu bakal tertanam di alam bawah sadar kita. Nggak
bisa dipungkirin sih, kalo alam bawah sadar pun turut andil dalam
setiap tindak-tanduk kita.

So, mari coba bareng-bareng yuk, ajakan aku buat nunggu aku nguji coba
ditarik deh, bukannya enakan bagi-bagi pengalaman?

Semoga bermanfaat dan manjurr. Haha

yang mau komen siilaahkaan komeen!

Menyesal Selalu Datang Belakangan (lagi)

Bertemu dengan kesalahan lagi. Apa setiap kali secara periodik saya
harus berbuat salah seperti ini. Bukannya apa, saya janya takut jika
saya dapat adzab, astaghfirullaahal'adziim, maafkan hamba ya Allah,
hamba berpikir Engkau akan sejahat itu.

Sebuah tekad, di mana tekad? Berubah dong berubah jadi baik, do
positive action dong. Pasti bisa, ayo, saya pasti bisa. Semoga dengan
menulis kayak gini bisa mengalihkan semuanya. Semoga saya tidak pernah
melupakan buat buka gmail lalu posting blogger lewat gmail. Otakku
harus dipaksa berpindah haluan dari negatif ke positif, dari yang
dilarang ke yang diperintahkan.

Ya Allah, semoga sifat Maha Pemaaf-Mu tiada pernah hilang, hamba harus
yakin itu. Maha Penyayang-Mu abadi selamanya. Menjadi Sang Pemegang
Kuasa atas segala bentuk kesedihan kami. Iman, Islam, Kesehatan, Kaya,
dst yang baik-baik selalu terlimpahkan pada hamba sekeluarga. Dari
lubuk hati yang terdalam, Harapan Agar Dapat Selalu Bergantung
Pada-Mu.

Allah, maafkan hamba
Sayangi hamba
maafkan hamba
maafkan hamba..

Pikir Sebelum Bertindak

Terkadang rasa deg-degan selalu muncul dibenak saya ketika saya baru saja membuat rencana untuk melakukan suatu pengalaman baru. Akan bisakah saya? Pantaskah saya melakukan itu? Pertanyaan seperti itu terkadang muncul. Saya bukanlah pribadi yang melakukan sesuatu tanpa berpikir. Karena kita harus selalu berusaha untuk selalu berpikir matang sekalipun kita dituntut untuk merencanakan dan memutuskan sesuatu secara tiba-tiba. Karena itu kita disebut sebagai manusia. Resiko, tentunya sudah kita pikirkan saat kita hendak memutuskan sesuatu. Tapi, jangan menjadikan itu portal untuk kita melangkah, untuk kita yang lebih baik. Toh, Tuhan selalu MAha Mengetahui. Haha, saat kita ngomong, emang ga semudah saat kita ngejalaninya, berratth. Tapi, seenggaknya, kita tahu apa yang dimau sama hati kita, kalo bohong pasti bakal kerasa. Ikhlas, itu kayanya kuncinya deh ya? Gimana enggak? Lha wong resikonya pasti ada kok. Sama move on, itu bukti nyata kalo kita selalu berpikir positif. Semoga hidup kita selalu berada di jalan Allah, dan tepat sampai ditujuan sesuai. Aamiin.

Budaya Memberi Uang


Wah, tahu judulnya jangan langsung ngejudge buruk ya.  Pengalaman aja sih ini. Sejak kecil, saya selalu diajak main ke rumah orang tua ayah. Kenapa sering? Karena jarak antara rumah kami dengan rumah kakek-nenek terbilang dekat. Menyenangkan, kalo datang ke sana selalu disuruh makan, ga heran juga dulu saya sempet gemuk banget, apalagi setelah khitan makannya bisa enam kali sehari, haha.

Kakek itu pensiunan PNS, jadi ga heran juga di usia mereka yang sekarang sudah sepuh masih bisa hidup cukup mandiri. Yang ini salud. Kakek-nenek itu sejak saya masih SD mereka tinggal berempat sama kedua cucunya alias sepupuku. Gak tahu kenapa dua orang sepupuku itu dititipkan di situ. Mereka berdua lebih tua daripada saya, sekarang mereka udah punya anak malah. Keren Ya Kakek-nenekku.

Nah, ada budaya menarik nih, yang sudah ditanemin sama para pendahulu saya, seperti kakek-nenekku ini, yaitu selalu ngasih duit kepada cucu-cucunya yang berkunjung ke sana. Entahlah, saya sendiri juga kurang begitu paham tujuan dari mereka ngasi duit. Padahal orang tua kita mampu kok.

Bahkan hingga detik ini, hingga saya udah segede ini budaya itu masih saja ada. Bahkan nominal yang diberi itu berkali-kali lipat besarnya daripada saat saya masih kecil dulu. Wh, wah, wah. Alhamdulillaah. Hehe. Tapi, tahu ga sih ternyata dalam diri saya, tersimpan rasa sungkan yang luar biasa (lebai banget -_-). Mungkin karena melihat kondisi mereka berdua yang saat ini berkebalikan dengan keadaan mereka dahulu.

Kakek-nenek sudah sepuh, kakek udah mulai rabun, pendengarannya pun udah berkurang fungsinya. Nenek, belakangan ini baru operasi, tulangnya patah karena terpeleset, tapi sumpah, niat mereka buat bahagiain cucunya dengan cara ngasih duit masih berjalan.

Kalau saya lihat, mungkin tujuan mereka yang utama adalah pengen berbagi kebahagiaan aja kali ya ama cucunya. Mereka pingin ngasi tau sama cucu-cucu mereka kalau ga hanya ayah ibu aja yang cucu-cucunya punya, tetapi mereka juga punya kakek-nenek ( ini yang sering terlupa oleh kita). Tapi, yang saya takutkan, budaya yang sejak kecil tertanam ini, bisa menjadi kebiasaan buruk di masa depan. Ditakutkan, budaya ini akan menghilangkan  IKHLASISME ( Sori, bahasa gua ga keruan). Tapi, semoga aja, engga kejadian deh, selama kita udah ditanamkan nilai-nilai keikhlasan sejak kecil.

Bagi saya, kebudayaan memiliki dua sisi. Jika kita paham sisi terbaik, maka kebudayaan itu bukanlah suatu hal yang kontroversial, melainkan kita memandangnya sebagai sebuah keragaman.

Persahabatan itu Jodoh yang Ada di Tangan Tuhan

Jujur, entah berapa kali saya merasakan perasaan seperti sekarang. Saya merasa bahwa saya menrindukan sosok sahabat. Berkali-kali pula di dalam tulisan saya menyiratkan bahwa saya sangat-sangat menginginkan sosok sahabat. Mengayomi, diayomi, berbagi, dibagi, mendoakan, didoakan, menguatkan, dan dikuatkan. Sumpah, saya benar-benar tidak bisa hidup sendiri, hidup tanpa dunia-dunia lain di luar dunia saya hanya membuat saya begitu teraniaya.

Mungkin benar, jika sahabat itu layaknya jodoh. Seperti pasangan hidup pada masing-masing karakter yang dimiliki oleh sang waktu. Pasangan hidup seperti istri, sahabat, obat, kendaraan, dan sebagainya bisa jadi itu saya dapatkan karena saya berjodoh dengan hal-hal tersebut. Jodoh sudah diatur Tuhan bukan? Tapi, selalu ada usaha dibalik ketentuan Tuhan itu, agar hidup kita berasa hidup. Agar tak ada pandangan bahwa segalanya bisa didapatkan tanpa berbuat apa-apa, sekalipun tak dapat dipungkiri ada hal-hal seperti itu. Tapi, saya yakin segala seuatu yang terjadi pada manusia ada sebab dan akibat, Begitu juga jika saya menginginkan sahabat. Maka saya harus mulai berani mencoba bersinggungan dengan dunia luar. Sudah dicoba sih, meskipun hanya berupa langkah kecil, tapi mungkin belum saatnya bagi saya untuk diberi sahabat oleh Tuhan. Atau sudah ada namun saya tidak menyadarinya? Atau juga Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang besar bagi saya? Hanya Allah yang Maha Mengetahui. :)

Selalu bersyukur adalah salah satu jalan untuk menghilangkan kegalauan (selain main game, haha).

Pada timing yang tepat ini, perkenankan saya untuk menuliskan satu bait puisi setidaknya untuk mengobati si hati, dan menemani rasa syukur..

Hutan belantara, Tuhan merancangnya..
Ular, buaya, angin dingin, udara lembab, tak hanya itu pengisinya..
Tuhan menyertakan sungai jernih, area kosong tanpa atap pohon agar sinar matahari memapar,
hewan-hewan jinak
Dan bersyukurlah,
Manusia tak pernah puas, mintalah selagi itu baik, dan kembalilah bersyukur..

CEMMM UNGGG UDDHHH !!!


Rumahan, bukan berarti nggak berguna ya! Jangan pandang miring sama orang rumahan! Paling tidak, pandang mereka sama seperti apa yang kalian lakukan, sekalipun pada kenyataannya mereka memang ga berguna.Hehe, “kenyataannya”, saya beri tanda petik ya, maksudnya bukan kenyataan pada apa yang kalian lihat, melainkan pada apa yang mereka rasakan. So, begitulah kita seharusnya menghargai setiap eksistensi seorang manusia. Tercipta kerukunan, Insya Allah!


Pengalamanku sebagai orang rumahan. Gembira ria, iya. Bosen, iya. Semangat juga iya. Saya pribadi always berpikir postif, maksudnya, bisa gak bisa, mesti terus semangat. Makan, semangat. Tidur, semangat. Belajar, semangat. Liat TV, juga semangat. Lagi bosen, juga mesti semangat. Jadi semangat terus deh pokoknya, jadi pikiran negative bisa dialihkan. Tindakan menghukum diri juga terabaikan. Pokoknya semangat deh. Jadi, ga ada lagi pertanyaan bodoh semisal, KENAPA GUA NGANGGUR? KENAPA GUA GALAU? KENAPA GUA TIDUR MULU? Dijamin ga ada, ya kalo ada sih Cuma buat nyadarin elu, supaya SEMANGAAAAt!!!


Always semangat, apalagi kalo punya sahabat, bisa supa dupa semangaaaattt!!!
Gerakan semangat dari saya, SEMANGGGGGAAAAAAAATTTTT!!!!!!!!
Kalo gua udah gajadi anak rumahan, liat aja, Indonesia bakal lebih membahnnnaa!!
Inilah pemuda, Lihat aku dunia!! Anak rumahan yang semangat mencari KEBERANIAN, di rumah hehe!!
Sebagai modal untuk keluar dari rumah, For doin’ something useful!
Semangat mencari Kemuliaan, di rumah juga hehe!
Sebagai modal uuntuk membuka pintu rumah dengan sopan, untuk memandang luar rumah, dengan penuh etika. Semangaatttt!


Rumah adalah tempat untuk membentuk “modal” untuk menjadi jiwa yang lebih baik.
Buat kalian anak rumahan, SEJATINYA KALIAN SANGAT INGIN KELUAR RUMAH KAN? INGIN INGIN DAN INGIN SEKALI.
Saya punya hati, saya punya pikiran, sehingga saya dapat memutuskan saat yang tepat untuk KELUAR RUMAH. To get Glory! SEMANGAT YA!! Sekalipun kalian di dalam rumah!!!! Semangat, semangat dan semangat!!!

JANGAN DIBACA SERIUS!! Buat mengalihkan pikiran negative kita aja..
So, lebih baik kalo kita ga jadi anak rumahan sih!!! Tapi, YANG TAHU ELO ADALAH ELO SENDIRI! YAKIN AJA DEH POKOKNYA! SEMANGAAAAAATTHHH!!

Fans dan sang Idola


Bagi mereka yang mempunyai fans, mereka adalah orang yang beruntung. Di saat mereka jatuh,  fans setia akan tetap mendukungnya, terlebih lagi mereka akan mendoakannya. Para fans mungkin tidak pernah dikenal oleh sang idola, tapi ada doa tulus yang selalu menyertai langkah sang idola untuk tetap terus ‘diakui’. Tak peduli idola yang dipuja itu sudah terkenal atau belum. Tentunya para fans berharap bagi idola mereka yang terkenal agar tetap menjadi ‘inspirasi’ bagi mereka, dan bagi mereka yang mungkin masih muncul sebagai figuran atau new comer  tentunya para fans berharap agar sang calon idola yang telah menjadi idola di hati mereka lebih mampu untuk menginspirasi manusia dalam jumlah yang lebih banyak lagi, sehingga tak hanya mereka yang terinspirasi.

Aku sendiri bingung mengapa ada begitu banyak sosok yang  diidolakan, padahal kebanyakan dari manusia telah memiliki sosok yang juga menginspirasi ketimbang para figuran ataupun new comer,ataupun sosok-sosok yang lain, singkatnya mereka memilih satu sosok atau beberapa sosok daripada sosok-sosok lain yang juga menginpirasi. Apakah ini berkaitan dengan apa yang dinamakan subjektifitas? Jawabnnya, mungkin.

Manusia diciptakan beragam. Beragam, berarti tak sama. Beragam, berarti ada insting untuk mencari kesamaan (baca: persatuan). Hal tersebut dapat menjadi salah satu dasar adanya kumpulan fans untuk setiap sosok. Manusia diberi Tuhan masalah, dihikmahi pengalaman, dan diberkati perasaan. Dan kembali lagi, bahwa ketiga hal tersebut beragam. Hingga segala bentuk sistem alam dan buatan saling berkesinambungan antar sesamanya maupun antarkeduanya, seperti insting dan  sistem komunikasi misalnya, dapat melahirkan suatu ‘kasta’ modern pada salah satu sisi kehidupan layaknya,Waisya, Sudra, Ksatria,dan Brahmana , yakni fans dan sosok yang secara subjektif mampu menginspirasi para fans bejuluk idola. Sehingga diperlukan sosok-sosok beragam yang bisa mereka anggap sebagai sosok yang terbaik dari yang terbaik.  Hal yang perlu ditekankan, ini adalah kasta modern, yang seharusnya disikapi layaknya orang-orang yang berpemikiran modern, yakni berakal dan beradab, sehingga kasta modern seharusnya tak ada yang berbuat dzalim pada setiap kasta lain yang terbentuk.

Maka dari itu, kebanyakan dari idola, menjadikan para fans sebagai sahabat mereka. Semoga sang idola tetap selalu ramah dan bershabat, dan kalau bisa bersahabat dalam arti yang sebenarnya. Sebaliknya, para fans  tidak terlalu memaksakan sang idola, karena idola juga manusa, bukankah idolamu adalah sahabatmu, atau mungkin lebih tepatnya adalah sosok yang benar-benar kamu dambakan untuk menjadi benar-benar sahabatmu?

Ya, Aku Pria Normal


Ada saatnya seorang pria jomblo dan tanpa teman membutuhkan kasih sayang. Ada saatnya seorang pria jomblo dan tanpa teman tak mampu bersikap garang di mata orang lain. Saat itulah, saat di mana hanya Tuhan tempatnya bersandar. Tuhan, tak pernah mencelanya. Tuhan mampu menjadi tempatnya mengadu, menangis, dan meminta solusi. Pria jomblo dan tanpa teman itu adalah aku. Kamu? Entahlah. Jika, perasaan seperti ini tak hanya pria sepertiku saja yang merasakan, maka para pria yang lain pun merasakan. Namun jika hanya aku yang merasakan, ada satu pertanyaan dalam benakku, “Lalu, bagaimana normalnya pria jomblo tanpa teman  saat mereka menghadapi perasaan seperti itu?”.

Yang aku tahu, seorang pria itu cuek. Tidak mellow. Bahkan kebanyakan dari mereka ceria, atau minimal berekspresi datar lah (baca: cool). Itu yang aku tahu, itu yang aku lihat. Sedih? Nangis? Sampai sekarang pria yang pernah menangis dan sedih dan tak malu menunjukkannya di hadapanku hanya ayah, om, dan teman-teman kelas 3 sd ku yang mungkin saat ini mereka telah bersikap selayaknya pria bertopeng. Tunggu dulu, pria bertopeng versiku bukan seseorang yang jahat. Tetapi pria-pria ini, termasuk aku adalah pria yang mencoba bersikap profesional. Profesional akan nilai-nilai yang telah hidup sejak dulu. Nilai-nilai? Semoga! Semoga, sikap gagah, tangguh, dan menjadi pelindung hanyalah sebuah nilai luhur yang ditanamkan para gentlemen terdahulu kepada para pria saat ini, bukan “ancaman”, bukan “paksaan”, dan bukan “doktrin nista” yang nantinya hanya membuat kaum-kaum yang belum menghayati nilai luhur tersebut menjadi tersisihkan bahkan tersakiti.

Menurutku, nilai luhur adalah topeng baik yang digunakan manusia, dalam hal ini pria, untuk menunjukkan keluhuran. Sehingga, menjadi sah saja, ketika si empunya topeng berkeinginan untuk melepasnya, dan menjadi dirinya sendiri. Sekali lagi, manusia yang baik tak berlebihan memakai topengnya, karena saat manusia baik telah melepaskan topeng itu ada hati yang baik yang jauh lebih berharga dari sekedar topeng. Jadi, sesuatu yang normal, jika seorang pria jomblo dan tanpa teman hanya butuh Tuhan saat ia rindu kasih sayang cinta (ibu, ayah, saudara, teman, sahabat, pacar, ataupun kekasih).

Yang terakhir, Aku bersyukur terlahir normal. Aku bersyukur terlahir sebagai makhluk berakal dan berTuhan. Aku bersyukur detik ini masih memiliki Tuhan. Satu pintaku, kelak, jika aku telah memiliki objek-objek yang belum aku miliki saat ini, dan nantinya akan begitu aku cintai, aku tak lupa membagi kisah cintaku kepada Tuhan. Kisah cinta yang penuh senyuman maupun derasnya air mata.

Indahnya Lagu "Butterfly Kisses"

Ini lagu ballad paling touchy yang saya punya. Wew, Kalian pernah denger lagunya westlife yang butterfly kisses? atau mungkin cuma sekedar tahu. Hmmm, lagunya OK ya? Dari albumnya yang berjudul Deluxe Edition, jadi sedih pas ngerti liriknya. Berbulan-bulan nyoba listening , cuma ngerti dikit lirik-lirik yang dinyanyikan. Dan akhirnya hari ini, whoaa, tepatnya pagi ini, rasa penasaran itu hilang. Kembali ke lagunya, kenapa sih saya bilang lagunya ini bikin saya serasa ......

Ngisahin, seorang ayah yang udah ga punya istri, kayanya istrinya meninggal. Dan si ayah tinggal hidup sama anaknya, lebih tepat anak perempuannya yang mengalami fase-fase manusia pada umumnya, yakni semenjak ia menjadi baby girl yang lucu, sampe akhirnya ia pun menikah. Perubahan-perubahan selalu terjadi pada setiap fasenya, namun cinta kepada ayahnya tetap ada. Ia akan selalu menjadi gadis kecil ayahnya.

Hmm, ini liriknya

Butterfly Kisses - Westlife

There's two things I know for sure.She was sent here from heaven, and she's daddy's little girl.As I drop to my knees by her bed at night, she talks to Jesus, and I close myeyes.And I thank God for all the joy in my life,Oh, but most of all...
Butterfly kisses after bedtime prayer.Stickin' little white flowers all up in her hair."Walk beside the pony, daddy, it's my first ride.""I know the cake looks funny, daddy, but I sure tried."Oh, with all that I've done wrong, I must have done something rightTo deserve a hug every morning, and butterfly kisses at night.
Sweet sixteen today,She's looking like her mother a little more every day.One part woman, the other part girl.To perfume and makeup, from ribbons and curls.Trying her wings out in a great big world.But I remember...
Butterfly kisses after bedtime prayer.Stickin' little white flowers all up in her hair."You know how much I love you, daddy, but if you don't mind,I'm only going to kiss you on the cheek this time."Oh, with all that I've done wrong, I must have done something right.To deserve a hug every morning, and butterfly kisses at night.
She'll change her name today.She'll make a promise and I'll give her away.Standing in the bedroom just staring at her,she asked me what I'm thinking, and I said "I'm not sure,I just feel like I'm losing my baby girl." Then she leaned over... and gaveme...
Butterfly kisses, with her mother there, stickin little white flowers all up in her hair"Walk me down the aisle, daddy, it's just about time""Does my wedding dress look pretty, daddy?" "Daddy, don't cry."Oh, with all that I've done wrong, I must have done something rightTo deserve a hug every morning, and butterfly kisses..
a every hug in the morning, and butterfly kisses at night...

Dan yang mau download >>>klik di sini<<< 

Kejadian yang Terabadikan, Berhikmah!

Aku berterimakasih kepada pencipta kamera, mereka berdedikasi dalam pencapaian kesuksesanku kelak. Kenapa? Karena pada timing yang tepat untuk melihat foto, tak jarang aku merasa begitu berharga di dunia ini, melihat bahwa aku pernah melakukan sesuatu yang berguna yang membuat benakku berkata, “Hei, dulu kamu begitupositif, bangun dong, kamu begitu berguna di dunia ini, hidupmu dikelilingi oleh cinta, cinta Tuhan, cinta sesama manusia, dan cinta alam, yang terakhir cinta yang kamu munculkan sendiri untuk dirimu!”.

Cukup Anggap Aku Teman atau Sahabatmu

Sahabat, teman, atau apapun serupa itu. Bukankah itu yang kamu butuhkan? Ya, itu yang kamu ucapkan pada salah satu statusmu di sebuah akun jejaring sosialmu.  Itu pun nampak dari apa yang kamu lakukan disetiap aku melihat kamu, kamu terlihat seperti menginginkan seseorang yang menyediakan diri untuk menjadi teman, terlebih sahabat.

Hei, kamu tidak sendiri, akupun sama, aku merasa bahwa aku sedang butuh teman, terlebih sahabat. Ternyata benar apa yang dikatakan temanku, yang lagi-lagi perkataan itu aku lihat dari status teman fbku, bahwa hal yang paling menyakitkan adalah saat kita memiliki kebahagiaan dan kesedihan bahkan saat kita sedang tak memiliki cerita apaunpun namun tak ada teman atau sahabat untuk menceritaknnya atau sekedar membagi senyum.

Mungkin banyak orang di sekitar kita, banyak orang-orang dekat atau bahkan terdekat di sekitar kita, tapi mereka tidak begitu respect pada apa yang kita kerjakan. Bagiku pribadi, itu yang membuatku begitu takut untuk menceritakan segala sesuatu tentang diriku pada orang lain. Pada orang yang bisa saja dengan sekonyong-konyong kita jadikan sahabat.

Kita adalah saudara, sekalipun tak serahim tak penting dan tak perlulah kau menganggapku ini adikmu atau kakakmu, cukup anggap aku temanmu, anggap aku sahabatmu. Tak perlu menampakkan kepalsuan di hadapku, cukup dirimu.

Aku tak tahu bagaimana hidup kita kelak jika kita dewasa, akan tetap diam merindukan sosok teman, atau menghilangkan ego dan mencoba berbuat selayaknya kita ini teman, terlebih sahabat. Jika kau membaca ini, kuharap ini semakin mendekatkan kita.

Jika tulisan ini kau temukan saat kita telah benar-benar memiliki hidup kita masing-masing, semoga hal ini setidaknya dapat menjadi kengan masa "ababil" kita. Memang cukup sulit bagiku untuk akrab denganmu, namun semoga kita bisa. Dan sejak sebelum tulisan ini terbit aku begitu ingin akrab denganmu.

Allah Mencintaiku

" C I N T A KITA MELUKISKAN SEJARAH..


Menggelarkan cerita penuh suka cita,

Sehingga siapapun insan Tuhan
Pasti tahu........
                                                                                 Cinta kita sejati....." 

Aku sandarkan setiap urusan cinta pada Tuhanku.

Aku jadikan setiap kegalauan yang ada, menjadi lantunan doa indah..

Agar segala kebaikan yang terlimpah,

Karena adanya cinta itu...

Puisi untuk "Bunda"


Bunda,

Aku melihat bunda lain begitu rela menaungi anak-anak bangsa mereka,
membiayai mereka dengan segala bentuk kenyamanan,
kemewahan,
keberadaan,

Bunda,

Aku menjadi saksi mata langsung
kejayaan keturunan dari bunda-bunda itu,
dari ekonomi, kebudayaan,
juga pertahanan bunda-bunda itu,

Bunda,

Tetapi,
seperti ada sesuatu yang tak mereka miliki seperti yang kumiliki,
KEHANGATAN,
Aku punya itu Bunda, Aku mempunyai itu..

Bunda,

Kehangatan yang kau berikan,
akan membuatku sukses dunia akhirat,
sukses menurutku,
aku yakin itu.

Bunda,
Kehangatan itu, adalah restu,
membuatku percaya,

Aku,
salah satu keturunanmu,
yang tak gentar
untuk berkata
kelak kau akan lebih anggun dan bermartabat di mata bunda-bunda yang lain,
tapi tidak perlu menunggu kelak bagiku,
karena kau akan selalu penuh dengan keanggunan
dan kehangatan yang menyertainya

Pilihan


Harus memilih jalan ataukah menunggu cahaya menerangi jalan yang masih abu-abu? Memilih jalan dan menunggu jalanan lain menjadi terang adalah  dua tindakan yang cukup bijak untuk dilakukan secara bersama. Keyakinan bahwa tak ada satupun yang diciptakan Tuhan dengan sia-sia membuat segalanya terasa menguntungkan. Hikmah bisa didapat dari pilihan itu, dan jika pilihan itu bukan jalan bagi kita, maka hikmah itu dapat berguna untuk jalan lain yang telah nampak terang. Memilih adalah sebuah perbuatan yang berlandaskan akan keyakinan. Benar, jika keyakinan/iman adalah nikmat yang paling utama.

Masa lalu acap kali datang membawa sensasi yang bermacam-macam, kerap kali aku merasa lebih takut berhadapan dengan masa lalu yang datang serampangan tanpa permisi ketimbang masa depan yang bisa kita mulai dari masa kini. Ketakutan akan kenangan masa lalu bukanlah tolok ukur kualitas pilihan yang diambil, misalnya saat kita memilih sesuatu karena kita takut hal buruk akan terjadi pada diri kita, bukan berarti pilihan yang kita pilih itu baik untuk kita, sebab kita harus memilih berdasarkan keyakinan, dan kalian tau kan keyakinan selalu identik dengan “keberanian”, maka dari itu membuat suatu keputusan haruslah dipikir benar-benar, tapi bukan berarti dipikir lama-lama, karena apapun yang kita perbuat selalu mengandung resiko, dari situ hikmah berasal. Rasa takut  hanyalah portal yang harus dilalui, bukan dasar kita untuk memilih. Dan ketika semuanya terasa indah, ada satu hal yang terbesit dalam nurani, menyentuh bagian jiwa malaikat kita, menyentuhnya dengan begitu hangat, “Tuhan, biarkan kebahagiaan ini abadi, karena berkat dan rahmat yang Engkau limpahkan di dalamnya”.

Suatu hari, aku pernah update status facebook dalam akunku. Kurang lebih aku bilang, “Ketakutan melakukan sesuatu akan pudar seketika saat kita melakukannya.”, That’s real!, itu seperti saat kita bangun tidur, yang diliputi perasaan malas, dan rasa takut untuk bertemu air alias mandi, tapi segala pikiran buruk tentang air itu hilang saat air mengguyur badan, sekali, du kali, tiga kali, hingga akhirnya membuat kita ingin dan selalu ingin untuk terus mandi, dan perasaan lebih baik pun muncul sesaat setelah kita memakai pakaian kita yang bersih, perasaan nyaman dan segar menjadi pengganti, bahkan nurani berkata,”bener ya, dari pada gue tidur dan males-malesan nutup selimut, mandi adalah jauh lebih baik!”. Namun sangat sering kita ingat perasaan itu tetapi kita kembali malas di hari berikutnya. Butuh komitmen yang tinggi untuk menjadi terbiasa.

Pendidikan Karakter Pertama

Jurusan Teknik Fisika ITS membuatku selalu teringat momen-momen yang terjadi di sana.

Sedikit cerita, aku masuk jurusan ini memang karena aku menyukai pelajarannya semenjak SMP. Kenapa tidak Jurusan fisika murni yang aku pilih, karena lebih pengen fleksibel aja nantinya, karena selain jadi insinyur nantinya, aku juga bisa jadi dosen atau pengajar. Selain itu, aku lebih pengen mempelajari gimana cara menerapkan ilmu fisika secara nyata, dan menggabungkannya dengan bidang-bidang ilmu yang lain. Cara ini juga aku rasa mampu mempermudah nantinya jika saya menjadi dosen.

Kenapa di ITS, aku sendiri tidak ada alasan khusus memilih ITS sebagai pilihan, pertimbangan domisili itu juga bisa dan mungkin juga tidak terlalu banyak adaptasi untuk hidup di Surabaya, mengingat aku dulu sempat tinggal di Surabaya. Tapi jujur setelah aku keluar dari ITS, ITS benar-benar sangat mengesankan.

Kenapa mengesankan, karena hingga detik ini aku masih mengingatnya, khususnya mantan jurusanku itu TEKNIK FISIKA. Aku benar-benar merasa tertuntut oleh diriku sendiri untuk mengungkapkan siapa diriku,  to show who the real me!!. 

Bagiku masa-masa SMA ku adalah masa di mana aku mempelajari teori-teori kehidupan yang hanya sebagian kecil. Hanya terdiam, mencoba dan terus mencoba memahami siapa diriku, bagaimana orang itu, bagaimana orang ini, bersikap aman di dalam rumah dan hanya sedikit mencoba untuk benar-benar hidup.

Tapi di Jurusanku, aku benar-benar tertuntut olehku sendiri tidak hanya meneruskan mempelajari teori-teori hidup tapi juga dihadapkan dengan berbagai masalah yang tanpa aku sadari sedikit demi sedikit mematangkan mentalku. Aku baru menyadarinya, menyadari hikmah itu setelah aku keluar dari sana.

Permasalahanlah yang menyulut api, sehingga aku tak berdiam diri untuk bergerak mematangkan mentalku. Sayangnya, aku hanya melaluinya sekejap saja, aku hanya melalui proses itu sekelumit. Bisa aku bayangkan bagaiamana jika aku terus melanjutkannya hingga akhir.

Tapi ini jalan Allah, dan juga keinginanku, aku yakin akan ada hikmah setelah ini, seperti layaknya Aku dan ITS, Aku dan mantan jurusanku Teknik Fisika 2011. Aku dan vivat-vivat yang hingga kini masih menggema.

Aku yakin jalan Allah, segala bentuk jalan Allah, termasuk membuat diriku untuk mampir ke ITS, Teknik Fisika, menjadikannya sebagai pendidikan karakter pertamaku, dan meneruskan perjalananku ke STAN, dan aku yakin STAN menjadi persinggahan sementara juga untuk menuju ke sebuah perhentian lain, semoga yang menjadi perhentian akhirku adalah di sisi Allah (surga) nantinya.

Terima kasih, ITS, Teknik Fisika, Kakak-kakak Jurusan, Teman-temanku di sana,

Mengisahkan Kisah Menyentuh

Sebagai manusia, kita diciptakan berpasang-pasangan, kita disunnahkan oleh Rasulullah, dan menurutku menikah adalah penting dan ibadah.

Kehidupan suami istri pasti ada masa-masanya naik dan turun, fluktuatif.
Ada sebuah kisah pendek nih yang bisa didownload dari link ini, keren lah pokoknya..

>>>download di sini<<< (5.2 MB)


Orang Papua Jangan dipandang dari Luar

Apa yang pertama terlintas dalam pikran anda saat mendengar kata "Papua" ?

Saya secara pribadi akan langsung berpikir mengenai keterbelakangannya, mengapa mereka terbelakang, apakah di balik keterbelakangan mereka itu ada sebuah keistimewaan yang dimiliki, apakah keistimewaan yang mereka miliki itu sama saja dengan pulau-pulau lain di Indonesia, apa keistimewaan yang mereka miliki yang paling istimewa? mengapa saya menyatakan ketidakbetahan untuk tinggal di sana sebelum saya tinggal di sana.

Saya adalah mahasiswa STAN Program Diploma I Perpajakan, dan Insya Allah akan menjadi PNS di salah satu Direktorat di bawah naungan Kementrian Keuangan, yakni Direktorat Jenderal Pajak. Seorang PNS khususnya pegawai pajak di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak kelak akan bekerja berdasarkan Surat Keputusan yang diberikan. Surat itu salah satunya disebutkan mengenai di mana nantinya unit kerja kita berada yakni di dalam SK penempatan. Sehingga di manapun kelak akan ditempatkan, termasuk di Papua, kami harus siap mengabdi.

Hal tersebut yang menjadi tantangan bagi saya untuk tetap mengabdi, mengapa tantangan, karena bagi saya di Papua tidak akan ada orang-orang yang sesuku dengan saya, tidak ada yang menggunakan bahasa tidak formal yang saya gunakan setiap hari untuk berkomunikasi dengan teman sejawat, bagi saya penyebab tersebut adalah tantangan terbesar. Selain itu banyak dari kita yang melihat pulau Papua sebagai pulau yang terbelakang, banyak hutan rimba di sana, kerap kali terjadi perang antar suku, dan makanan yang mereka buat tidak seperti makanan di pulau Jawa. Namun, ini tetap tidak akan menyurutkan saya untuk tetap mengabdi. Pengabdian akan lebih bermakna jika ditempatkan pada objek abdian yang benar-benar butuh sebuah pengabdian.

Untuk membantu meringankan beban saya, lebih baik saya tidak hanya melihat Papua sebagai pulau yang penuh dengan hal-hal yang sangat tidak kita harapkan, supaya adil saya juga akan melihat papua sebagai pulau yang istimewa. Papua mempunyai beberapa keistimewaan, yaitu Papua memiliki orang-orang yang sangat menghargai alam, mereka sangat menghargai dan mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, hal ini bisa dibuktikan dengan bagaiamana kondisi alam di sana di zaman seperti saat ini, banyak rerimbunan hutan, kesejukan udara masih terasa di sana, dan juga perang. Alasan mengenai perang menjadi indikator betapa mereka sangat mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada mereka yakni karena penyebab perang tersebut kebanyakan adalah masalah perbatasan, meskipun cara mereka salah yakni dengan perang tapi hal tersebut juga seharusnya dikaitkan dengan karakter "polos" mereka, mereka tidak mungkin perang hanya karena kekuasaan atau kedudukan, mereka hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi hak milik mereka.

Berikut adalah kutipan dari blog lain yang ditulis oleh orang Papua bernama Obed Mote yang menjadi tambahan bahwa mereka benar-benar pribumi yang istimewa.

" Orang Tua kita tidak pernah mengajarkan kita untuk menjual Papua dengan mencari keuntungan diri kita sendiri( masing-masing) jangan takut akan soal makan dan minum Tuhan akan memeliharamu, kalian lupa kah Tuhan sudah bilang bahwa burung-burung di udarah saja Tuhan berikan makan yang cukup untuk hari itu, manusia adalah ciptaan yang khusu untu RENCANANYA KEKEKALANnya masakan Dia tidak memelihara kira? cukupkan dengan apa yang ada padamu, yang mejadi hak kaisar berikanlah kepada kaisar. Bapa kamu saja kalau kalian minta ikan dia tidak mungkin berikan ular, kalau kalian minta roti dia tidak mungkin berikan batu, apa lagi Tuhan Yesus yang punya segalahnya, dia punya rencana besar untuk setiap orang untuk kebaikan semua orang...jadi intinya jangan takut dengan hal maka minum..."

Cerita di atas setidaknya mampu sedikit meringankan pikiran saya. Semoga kalian juga mampu menilai Papua sebagai pulau yang tidak layak dipandang sebelah mata.

Pemuda Dinanti Dunia

            
Kelak kita adalah pemimpin dunia. Kita bersama sebagai wujud keberadaan yang akan mengisi dunia. Kita diharuskan untuk mampu dan turut serta atas keberlanjutan dunia. Seolah-olah dunia sedang menanti kita. Sekarang apa yang harus kita perbuat? Dunia sedang menanti kita. Tidakkah kita merasa tersanjung akan hal tersebut? Teman, kita dibutuhkan, kita dinanti masa depan. Saat ini mungkin banyak di antara kita yang sedang tertidur, sedang yang lain berkompetisi untuk memenangkan seleksi yang diadakan alam, saat ini mungkin banyak yang hanya berangan-angan, sedang yang lain tertatih-tatih, jatuh bangun berkeringat, dan maju ke depan sekalipun bawah tak dapat terelakkan.
         Mungkin sebagian dari mereka yang berangan, beberapa dari mereka yang tertidur, mereka tak benar-benar berangan fiksi, mereka tak hanya tertidur pulas, namun ada mimpi yang mereka bawa. Mereka membawa mimpi-mimpi mereka dengan mengantongi niat untuk mencari apa bakat mereka. Sehingga saat mereka terbangun mereka tak lantas bermalas-malasan tapi juga bergegas mengejar apa yang mereka impikan dan seiring dengan apa yang mereka kejar, mereka juga mencari apa bakat mereka, dan saat mereka tahu apa bakat mereka, mereka tak ubahnya bom atom yang akan mampu mengejutkan dunia, yang akan berperan untuk dunia.
          Tak mudah memang, itulah yang kita lalui saat ini, itulah yang kita -para pemuda- hadapi saat ini. Ada saja yang tidak kita ingini untuk terjadi malah terjadi, dari Negara, masyarakat, keluarga, bahkan diri sendiri pun punya peluang untuk menggagalkan perjuangan kita. Namun, tidakkah kita berpikir, bahwa itu semua terjadi, agar apa yang kita lakukan terasa bermakna, bahwa apa yang diujikan oleh Allah atas apa yang kita lakukan saat ini terasa lebih indah. Agar kita lebih bersyukur atas apa yang kita terima kelak.

Writer Is Leader



WRITER IS LEADER
     Saat sastra merasuki jiwa ini, biarlah mengalir. Tanpa arah, bebas, membawa segala angin, membawa segala debu, membawa segala angan, segala doa, segala harapan, seolah membawanya kepada Tuhan.
     Bagiku doa itu berada pada tingkat tertinggi sebuah sastra. Doa itu indah. Andai aku bisa memilih antara doa dan sastra, aku akan lebih memilih doa. Namun dalam benakku sastra itu adalah bidadari dunia. Aku bisa menangis karenanya, tertawa, terpukau, terpesona karenanya.
     Penulis, merupakan impian terbesarku. Aku kira selama ini otakku hanya berkonsep pada fisika, aku mengira hingga detik ini, apa aku terlahir sebagai pemikir, apakah aku nantinya akan ditakdirkan sebagai ilmuwan, sedang dalam benakku, dalam pencitraan dalam pikiranku, kelak aku akan menjadi seorang karyawan kantoran. Semua berada antara cair dan beku, antara cair dan uap, aku KEBINGUNGAN.
     Hakikat hidup adalah ibadah, ibadah selayaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya. Menulis adalah salah satu ibadah yang sangat menyenangkan, di sana antara doa dan sastra bersinergi, maka apapun yang tertulis adalah suatu maha karya yang relatif indah. Ide yang muncul secara tiba-tiba dapat kita jadikan patokan kata, dan patokan kata itu kelak akan berkembang, berdifusi menjadi suatu wacana, bahkan buku yang dapat menginfus segenap jiwa.
     Saya bisa bilang, bahwa penulis merupakan pemimpin dan pemimpi. Mereka mampu memengaruhi, mampu dicintai, dan mampu memperbaiki keadaan dengan segala tulisannya yang bersifat menhibur. Mereka pemimpi yang hebat. Seorang penulis mampu berimajinasi secara hebat.
     Sebuah harapan yang tak pernah putus. Aku, sang pemimpin, aku sang pemimpi, karena aku kelak akan menjadi pnulis yang handal.saat aku menjadi Pegawai Negeri Sipil, aku akan lebih mudah mengatur waktuku untuk menulis. Aku kan menulis membawa semua angan dalam ketikan keyboard laptop atau komputer.
Remember! Writter is LEADER!!!!

Menjadi Hebat Bukan Sebuah Kesalahan Besar


Bukanlah sebuah kesalahan yang besar, saat kita memiliki perasaan ingin hebat atau sukses ketimbang orang lain, dengan satu syarat tetap miliki nilai-nilai social yang baik dan menampilkannya secara apik kepada orang lain. Seperti hak asasimu untuk hidup, maka hak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari orang lain juga patut diperjuangkan. Namun akan lebih pantas, jika kita berlatih sejak awal mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan orang hebat. Akan tidak terlihat indah apabila setelah menjadi orang hebat namun bukanlah kehebatan yang ditunjukkannya, justru hal konyol yang selalu dilakukan, tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma umum yang berlaku.
Satu yang ingin aku ingatkan kepada diriku sendiri dan kamu semua, dalam perjalanan meraih kehebatan ataupun kesuksesan sebetulnya aku dan kamu semua sudah terlihat sebagai orang sukses dan hebat. Itu cukup membantu membuat sebuah mindset sederhana yang juga akan berdampak baik bagi diri kita. Dari sebuah buku yang kurang lebih , “masa depanmu bergantung pada apa yang kau pikirkan dan lakukan saat ini”. So do what the best action and think the best too!! Berawal dari diri sendiri semua akan bermula, dari yang terkecil semua akan menjadi hal yang besar, saat ini juga aku dan kamu harus melakukan ini semua.(AA Gym)
Tulisan ini aku jadikan penyemangat buat diriku sendiri khususnya, agar bisa terus berbuat lebih baik dan lebih baik lagi di setiap waktu. Dan semoga tulisan ini juga dapat menjadikan sobat la8pansku berbuat hal demikian. Em, satu juga yang perlu aku garis bawahi, bahwa tak dapat dipungkiri bahwa aku dan sobat la8pansku semua adalah sebuah makhluk yang bernama seorang manusia, dimana predikat itu menjadikan diri kita sebagai makhluk yang tak pernah luput dari kesalahan, baik itu khilaf ataupun bejat. Kesalahan itu yang dapat menciutkan psikis kita untuk maju. Jadi, “kembalilah” untuk menjemput kehebatanmu, “kembalilah” menjadi orang hebat dan sukses untuk bertempur kembali menjadi orang yang benar-benar hebat dan benar-benar sukses. Senyuman kecil hangat ini menutup tulisan ini. :)

Mendengarkan itu Bijak


Mengerti apa yang kamu bicarakan adalah suatu kelegaan bagi naluri seorang sahabat yang baik. Seperti yang kamu semua tahu, bahwa banyak sekali masalah yang bisa terjadi hanya karena kesalahpahaman dalam mengartikan apa yang dibicarakan temen kita. Bicara A diartikan ke Z, sering cerita tentang keluarga, diartikan kita tidak pernah peduli sama dia. Ngasih tahu masalah halal haram ke temen yang beda agama, dikira kita sok suci. Cerita tentang pacar, diartikan tidak mengerti perasaan menjadi seorang jomblo. Ujung-ujungnya bentrok, ujung-ujungnya rame, berantem, bahkan bisa saja saling bunuh.
Banyak orang bilang, bahwa banyak mendengarkan akan lebih mengarahkan kita kepada kepahaman. Mendengarkan yang dimaksudkan adalah listen outside dan listen inside. Jika keduanya dijalankan dengan benar, maka sikap memahami, dan empati akan timbul. Namun jika hanya ada 1 arah dari proses  listening itu, akan timbul ketidakbaikan. Mendengarkan adalah sikap bijak untuk menuju kerukunan. Karena dengan mendengarkan akan memunculkan sikap saling memahami dan sikap saling mengerti, peduli, simpati, bahkan empati.
Aku dan kamu semua pastilah mengerti, di masa-masa muda seperti saat kita sekarang ini, sosok teman dan sahabat yang baik sangatlah kita butuhkan. Menghilangkannya itu berarti menghilangkan sebuah link yang sangat penting dalam bagian hidup kita. Sobat la8pansku, bahkan kita akan menjadi benar-benar terlalu apabila kita meninggalkan dengan sengaja sahabat kita.
So listen your friend sobat la8pansku !

Analogi Perjalan ke arah Tujuan

         Secercah harapan membelalak di depan mata. Andai kau tahu, betapa harapan itu kian memabukkanku. Aku terus berjalan dengan arah yang jelas di sini. Aku akan beristirahat sebentar dikala saraf otot kakiku mengeras, akan berhenti untuk beberapa menit mencari beberapa asupan energi untuk melanjutkan perjalanan dengan kecepatan maksimum. Atau kau bisa menganggap aku tak berjalan, iya kau bisa anggap aku berlari menjemput sebuah kepastian.
         Seperti kalian yang sedang membaca ini, kalian pasti tak mampu berlari hanya dengan bertelanjang kaki, begitupun dengan diriku. Aku berlari dengan sepatu atau terkadang dengan sandal seadanya. Aku tak mau kelak jika kelak aku tiba tepat di penantian, kakiku terluka, dan berdarah sia-sia, ingin tetap ada di dalam kesehatan yang telah di anugerahkan Tuhan kepadaku. Aku tak mau mengambil asal kata yang mengatakan bahwa SAKIT adalah PENGHAPUS DOSA. Aku percaya dengan itu, namun menurutku, betapa bodohnya aku, jika aku menyengajakan diri untuk tidak bersandal ataupun bersepatu hanya demi sebuah penghapusan dosa. Bukankah lebih mulia di sisiNya apabila kita menghapus dosa dengan cara yang fair, yakni dengan ilmu kita, dengan usaha kita.
          Selangkah demi selangkah aku lalui 100 meter itu. Meter demi meter aku lalui pula kilometer itu, Kilometer demi kilometer aku susuri bermil-mil tujuan yang begitu jelas. Kejelasan itu membuatku tak merasa rugi dan ragu. Berjuta-juta mil aku berlari, kuiringi dengan berjalan dan istirahat silih berganti membuatku sampai ke penjuru dunia, sampai pada tujuan terakhirku. Kau mengerti? betapa indah apa yang aku tuju, betapa leganya teka-teki dalam benakku mengenai tujuanku, betapa hebatnya melebihi apa yang selama ini aku angankan. Kau tahu? di luar apa yang aku usahakan, ada jalanan aspal yang diberikan Tuhan, ada jalanan berbatu yang diberikan Tuhan, ada pasir lembut yang diberikan Tuhan, ada rerumputan yang diberikan Tuhan, dan ada arah yang diberikan Tuhan.
            Aku tak kuasa jika aku tak bersama yang Maha Kuasa, aku tak kan mengerti jika tak bersama yang Maha Mengerti, aku tak kan berakhir jika tak bersamayang Maha Mengakhiri.